Berikut ini ialah berkas Buku-buku mengenai Hidroponik Gratis. Download file format PDF. Banyak sekali pencarian mengenai hidroponik diantaranya buku hidroponik pdf, download gratis buku hidroponik, download buku hidroponik pdf, buku hidroponik gramedia, hidroponik portabel, bertanam hidroponik untuk pemula, 6 teknik hidroponik, dan mudah-mudahan berkas-berkas mengenai hidroponik ini bisa menjadi suplemen rujukan bagi anda yang membutuhkan.

 Banyak sekali pencarian mengenai hidroponik diantaranya Buku Hidroponik PDF Gratis
Hidroponik

Buku Hidroponik PDF Gratis

Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi beberapa berkas mengenai Hidroponik yang mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan terkait dengan hidroponik botol, hidroponik sederhana, hidroponik paralon, materi hidroponik, hidroponik cabe, jenis tumbuhan hidroponik, metode hidroponik, nutrisi hidroponik dan lain-lain:

Hidroponik ialah suatu istilah yang digunakan untuk bercocok tanam tanpa memakai tanah sebagai media tumbuhnya. Tanaman sanggup di tanam dalam pot atau wadah lainnya dengan memakai air dan atau bahan-bahan porus lainnya, menyerupai kerikil, pecahan genting, pasir, pecahan kerikil ambang, dan lain sebagainya sebagai media tanamnya.

Untuk memperoleh zat masakan atau unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, ke dalam air yang digunakan dilarutkan adonan pupuk organik. Campuran pupuk ini sanggup diperoleh dari hasil ramuan sendiri garam-garam mineral dengan formulasi yang telah ditentukan atau memakai pupuk buatan yang sudah siap pakai.

Bercocok tanam secara hidroponik sanggup memperlihatkan keuntungan, antara lain :

  1. tanaman terjamin kebebasannya dari hama dan penyakit.
  2. produksi tumbuhan lebih tinggi.
  3. tanaman tumbuh lebih cepat dan pemakaian pupuk lebih efisien.
  4. tanaman memperlihatkan hasil yang kontinu.
  5. lebih gampang dikerjakan tanpa membutuhkan tenaga kasar.
  6. tanaman sanggup tumbuh pada kawasan yang semestinya tidak cocok.
  7. tidak ada resiko sebagai ketergantungan terhadap kondisi alam setempat, dan
  8. dapat dilakukan pada tempat-tempat yang luasnya terbatas.

Sistem Hidroponik
Bumi telah cukup usang menikmati kondisi cuaca yang baik, namun demikian ketika ini semua itu telah berubah. Jumlah air tanah yang melimpah di setiap kawasan ketika ini telah tercemari tanpa sanggup diperbaiki secara cepat. Kondisi sistem tata surya juga memasuki abad gres yang akan sangat mempengaruhi kehidupan di bumi. Akibatnya kita mengahadapi aneka macam permasalahan produksi tumbuhan terutama produksi tumbuhan di lahan terbuka (open field). Dalam sejarah peradaban manusia, ketika pemerintah tidak sanggup lagi menyediakan pangan untuk rakyatnya, maka akan terjadi perubahan yang sangat aktual pada bidang sosial, ekonomi, dan politik.

Bila kita melihat data dokumen perubahan cuaca dan lingkungan yang terjadi akan terlihat betapa kritisnya kondisi sistem produksi pangan dan ketersediaan pangan dunia. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut ialah perlunya memperluas sistem produksi tumbuhan dalam lingkungan terkendali yang senantiasa sanggup menyelamatkan sumberdaya air.

Pola cuca ketika ini telah berubah, apa yang kita lihat ketika ini ialah adanya trend hujan yang sangat ekstrim berair dan musing kering yang sangat ekstrim kering. Menurut dua jago meteorologi Benard dan Goodavage, kita ketika ini berada pada kondisi cuaca yang kritis dan diramalkan akan semakin memburuk, berdasarkan mereka perubahan dalam teladan jetstream akan mempengaruhi teladan perubahan temperatur dan curah hujan dan akan mempengaruhi kondisi pertanian di seluruh dunia.

Beberapa teori menyebutkan bahwa perubahanan teladan jetstream terjadi akhir perubahan cuaca dunia. Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa hal tersebut bekerjasama dengan tingginya karbondioksida dan gas lain yang terlepas ke udara akhir pembakaran minyak yang berasal dari fosil. Beberapa dari polutan ini menjadikan meningkatnya suhu udara yag lebh dikenal dengan “Greenhouse Effect” (Efek rumah kaca).

Sebagai solusi permasalahan yang begitu besar di atas, insan secara kreatif telah menyebarkan aneka macam teknologi untuk memproduksi tumbuhan sayuran, buah, dan tumbuhan hias tanpa memakai tanah dengan jumlah air yang sedikit. Tanaman juga sanggup dibudiayakan di dalam lingkungan terkendali, sehingga secara efisien sanggup memanfaatkan pupuk yang mahal harganya dan beberapa sumberdaya yang terbatas ketersediannya. Teknologi ini dikenal dengan nama Hidroponik. Pada budidaya tumbuhan dengan sistem hidroponik, derma air dan pupuk memungkinkan dilaksanakan secara bersamaan. Manajemen pemupukan (fertilization) sanggup dilaksanakan secara terintegrasi dengan administrasi irigasi (irrigation) yang selanjutnya disebut fertigasi (fertilization and irrigation). Dalam sistem hidroponik, pengelolaan air dan hara difokuskan terhadap cara derma yang optimal sesuai dengan kebutuhan tanaman, umur tumbuhan dan kondisi lingkungan sehingga tercapai hasil yang maksimum. Di potongan ini akan bibahas aspek utama dalam budidaya tumbuhan tanpa tanah.

Perkembangan Hidroponik
Hidroponik, budidaya tumbuhan tanpa tanah, telah berkembang semenjak pertama kali dilakukan penelitian-penelitian yang bekerjasama dengan inovasi unsur-unsur hara essensial yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. Penelitian wacana unsur-unsur penyusun tumbuhan ini telah dimulai pada tahun 1600-an. Akan tetapi budidaya tumbuhan tanpa tanah ini telah dipraktekkan lebih awal dari tahun tersebut, terbukti dengan adanya taman gantung (Hanging Gardens) di Babylon, taman terapung (Floating Gardens) dari suku Aztecs, Mexico dan Cina (Resh, 1998)

Istilah hidroponik yang berasal dari bahasa Latin yang berarti hydro (air) dan ponos (kerja). Istilah hidroponik pertama kali dikemukakan oleh W.F. Gericke dari University of California pada awal tahun 1930-an, yang melaksanakan percobaan hara tumbuhan dalam skala komersial yang selanjutnya disebut nutrikultur atau hydroponics. Selanjutnya hidroponik didefinisikan secara ilmiah sebagai suatu cara budidaya tumbuhan tanpa memakai tanah, akan tetapi memakai media inert menyerupai gravel, pasir, peat, vermikulit, pumice atau sawdust, yang diberikan larutan hara yang mengandung semua elemen essensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal tumbuhan (Resh, 1998).

Budidaya tumbuhan secara hidroponik mempunyai beberapa laba dibandingkan dengan budidaya secara konvensional, yaitu pertumbuhan tumbuhan sanggup di kontrol, tumbuhan sanggup berproduksi dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi, tumbuhan jarang terjangkit hama penyakit lantaran terlindungi, derma air irigasi dan larutan hara lebih efisien dan efektif, sanggup diusahakan terus menerus tanpa tergantung oleh musim, dan sanggup diterapkan pada lahan yang sempit (Harris, 1988).

Hidroponik, berdasarkan Savage (1985), berdasarkan sistem irigasisnya dikelompokkan menjadi: (1) Sistem terbuka dimana larutan hara tidak digunakan kembali, contohnya pada hidroponik dengan penggunaan irigasi tetes drip irrigation atau trickle irrigation, (2) Sistem tertutup, dimana larutan hara dimanfaatkan kembali dengan cara resirkulasi. Sedangkan berdasarkan penggunaan media atau substrat sanggup dikelompokkan menjadi (1) Substrate System dan (2) BareRoot System.

Substrate System
Substrate system atau sistem substrat ialah sistem hidroponik yang memakai media tanam untuk membantu pertumbuhan tanaman. Sitem ini meliputi:

Sand Culture
Biasa juga disebut “Sandponics‟ ialah budidaya tumbuhan dalam media pasir. Produksi budidaya tumbuhan tanpa tanah secara komersial pertama kali dilakukan dengan memakai bedengan pasir yang dipasang pipa irigasi tetes. Saat ini “Sand Culture” dikembangan menjadi teknologi yang lebih menarik, terutama di negara yang mempunyai padang pasir. Teknologi ini dibentuk dengang membangun sistem drainase dilantai rumah kaca, kemudian ditutup dengan pasir yang jadinya menjadi media tanam yang permanen. Selanjutnya tumbuhan ditanam pribadi dipasir tanpa memakai wadah, dan secara individual diberi irigasi tetes.

Gravel Culture
Gravel Culture ialah budidaya tumbuhan secara hidroponik memakai gravel sebagai media pendukung sistem perakaran tanaman. Metode ini sangat terkenal sebelum perang dunia ke 2. Kolam memanjang sebagai bedengan diisi dengan kerikil gravel, secara periodik diisi dengan larutan hara yang sanggup digunakan kembali, atau memakai irigasi tetes. Tanaman ditanam di atas gravel mendapatkan hara dari larutan yang diberikan. Walaupun ketika ini sistem ini masih digunakan, akan tetapi sudah mulai diganti dengan sistem yang lebih murah dan lebih efisien.

Rockwool
Adalah nama komersial media tumbuhan utama yang telah dikembangkan dalam sistem budidaya tumbuhan tanpa tanah. Bahan ini besarsal dari materi kerikil Basalt yang bersifat Inert yang dipanaskan hingga mencair, kemudian cairan tersebut di spin (diputar) menyerupai menciptakan aromanis sehingga menjadi benang-benang yang kemudian dipadatkan menyerupai kain “wool‟ yang terbuat dari “rock‟. Rockwool biasanya dibungkus dengan plastik. Rockwool ini juga terkenal dalam sistem Bag culture sebagai media tanam. Rockwool juga banyak dimanfaatkan untuk produksi bibit tumbuhan sayuran dan dan tumbuhan hias.

Bag Culture
Bag culture ialah budidaya tumbuhan tanpa tanah memakai kantong plastik (polybag) yang diisi dengan media tanam. Berbagai media tanam sanggup digunakan menyerupai : serbuk gergaji, kulit kayu, vermikulit, perlit, dan arang sekam. Irigasi tetes biasanya diganakan dalam sistem ini. Sistem bag culture ini disarankan digunakan bagi pemula dalam mempelajari teknologi hidroponik, lantaran sistem ini tidak beresiko tinggi dalam budidaya tanaman.

Bare Root System
Bare Root system atau sistem akar telanjang ialah sistem hidroponik yang tidak memakai media tanam untuk membantu pertumbuhan tanaman, meskipun block rockwool biasanya digunakan diawal pertanaman. Sitem ini meliputi:

Deep Flowing System
Dee Flowing System ialah sistem hidroponik tanpa media, berupa kolam atau kontainer yang panjang dan dangkal diisi dengan larutan hara dan diberi aerasi. Pada sistem ini tumbuhan ditanam diatas panel tray (flat tray) yang terbuat dari materi sterofoam mengapung di atas kolam dan perakaran berkembang di dalam larutan hara.

Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST)
Teknologi Hidroponik Sistem Terapung ialah hasil modifikasi dari Deep Flowing System yang dikembangkan di Bagian Produksi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Perbedaan utama ialah dalam THST tidak digunakan aerator, sehinga teknologi ini reltif lebih effisien dalam penggunaan energi listrik. Pembahasan ditail dari THST disajikan dalam sub potongan Kultur Air.

Aeroponics
Aeroponics adalah sistem hidroponik tanpa media tanam, namun memakai kabut larutan hara yang kaya oksigen dan disemprotkan pada zona perakaran tanaman. Perakaran tumbuhan diletakkan menggantung di udara dalam kondisi gelap, dan secara periodik disemprotkan larutan hara. Teknologi ini memerlukan ketergantungan terhadap ketersediaan energi listrik yang lebih besar.

Nutrient Film Tecnics (NFT)
Nutrient Film technics ialah sistem hidroponik tanpa media tanam. Tanaman ditanam dalam sikrulasi hara tipis pada talang-talang yang memanjang. Persemaian biasanya dilakukan di atas blok rockwool yang dibungkus plastik. Sistem NFT pertama kali diperkenalkan oleh peneliti berjulukan Dr. Allen Cooper. Sirkulasi larutan hara dibutuhkan dalam teknologi ini dalam periode waktu tertentu. Hal ini sanggup memisahkan komponen lingkungan perakaran yang ‘aqueous’ dan ‘gaseous’ yang sanggup meningkatkan serapan hara tanaman.

Mixed System
Ein-Gedi System disebut juga Mixed system ialah teknologi hidroponik yang menggabungkan aeroponics dandeep flow technics. Bagian atas perakaran tumbuhan terbenam pada kabut hara yang disemprotkan, sedangkan potongan bawah perakaran terendam dalam larutan hara. Sistem ini lebih kondusif dari pad aeroponics lantaran bila terjadi listrik padam tumbuhan masih bisa mendapatkan hara dari larutan hara di bawah area kabut.

Kultur Air
Diantara budidaya tumbuhan tanpa tanah, kultur air ialah budidya tumbuhan yang berdasarkan definisi merupakan sistem hidroponik yang sebenarnya. Kultur air juga sering disebut true hydroponics, nutri culture, atau bare root system. Di dalam kultur air, akar tumbuhan terendam dalam media cair yang merupakan larutan hara tanaman, sementara potongan atas tumbuhan ditunjang adanya lapisan medium inert tipis yang memungkinkan tumbuhan sanggup tumbuh tegak (Resh, 1998).

Dalam sejarah perkembangan hidroponik, penelitian-penelitian pertama wacana hidroponik tercatat memakai sistem kultur air tanpa adanya substrat atau media tanam (Woodward, 1699). Teknik-teknik dasar kultur air modern telah dikembangkan oleh Sach dan Knopp pada tahun1860 (Hewitt dan Smith, 1975) dari beberapa hasil inovasi sebelumnya oleh Senebier tahun 1791 yang menyatakan bahwa akar tumbuhan akan mati bila terendam dalam air. Pada tahun 1804, De Sausser juga menyatakan bahwa disamping mengandung udara air juga mengandung CO2, adonan gas mengandung 20 % O2 (Hewit, 1966; Hewitt dan Smith, 1975).

Aerasi ialah suatu hal yang essensial untuk acara perakaran walaupun hal ini sangat bermacam-macam antar spesies tanaman. Pengambilan unsur mineral akan terjadi ketidak seimbangan bila kondisi oksigen di perakaran menurun, sebaliknya akan terangsang bila konsentrasi oksigen di zona perakaran meningkat. Akumulasi karbondioksida (CO2) di dalam larutan hara akan menghambat absorbsi sebagian besar unsur hara tersebut oleh tanaman, sedangkan kekurangan oksigen (O2) walaupun tidak akan menekan absorbsi air (dalam periode tertentu) akan tetapi tetap menekan pengambilan unsur hara dari larutan hara (Soffer, 1985).

Selama lebih dari 300 tahun, kultur air merupakan suatu sistem yang paling sesuai untuk penelitian-penelitian hara dan metabolisme tumbuhan hingga ketika ini. Beberapa hal yang menjadikan hal di atas ialah sistem kultur air mempunyai larutan hara yang homogen, adanya keseragaman seluruh sistem dalam mempengaruhi sistem perakaran, serta kemungkinan pengaturan kandungan unsur hara yang tepat.

Keberhasilan sistem kultur air dipengaruhi oleh beberapa faktor yang pribadi bekerjasama dengan perakaran tumbuhan diantaranya ialah (1) aerasi di zona perakaran, (2) kondisi perakaran, dan (3) sistem penopang tumbuhan yang memungkinkan tumbuhan tumbuh tegak. Manipulasi aerasi di zona perakaran pada sistem kultur air berdasarkan Resh (1998) sanggup dilakukan dengan derma udara ke dalam larutan hara tumbuhan memakai pompa atau kompresor. Disamping itu peningkatan aerasi di zona perakaran sanggup pula dilakukan dengan sirkulasi larutan hara antara kolam tanam dengan reservoar hara. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen bagi perakaran berdasarkan Hochmuth (1991) di dalam kultur air (NFT) paling sedikit 1/3-1/2 sistem perakaran seharusnya tidak terendam larutan hara. Hal ini merupakan kunci perakitan teknologi hidroponik sistem terapung dimana tidak lagi dibutuhkan adanya energi listrik untuk menjalankan pompa ataupun kompresor guna meresirkulasi ataupun meningkatkan aerasi larutan hara.

Pengusahaan kultur air secara komersial untuk produksi tumbuhan sayuran telah dilakukan di beberapa negara antara lain Canada (Ingratta et al., 1985), Jepang (Takakura, 1985), Israel (Soffer, 1985), United Kingdom (Hurd, 1985), dan USA (Carpenter, 1985). Pengusahaan kultur air secara komersial di Jepang mencapai kurang lebih 2000 greenhouse atau sekitar 300 hektar. Unit kultur air sistem Jepang terdiri dari beberapa seri kolam yang terbuat dari plastik yang berukuran lebar 0.8 m dan panjang 3 m dengan kedalaman 6-8 cm. Tanaman diselipkan dalam lubang pada sterofoam. Larutan hara dipompakan ke dalam kolam selama 10 menit setiap jam, yang bertujuan untuk memelihara aerasi. Bak selalu penuh dengan larutan hara dimana akar tumbuhan terendam di dalamnya. Pipa aerasi sanggup dipasang pada kolam tanam untuk meningkatkan aerasi. Pipa aerasi ini mempunyai lubang berdiameter 2 mm pada setiap 4 cm panjang pipa (Resh 1998).

Modifikasi kultur air sistem Jepang telah dilakukan oleh Dr. Merle Jensen dari Environmental Research Laboratory (ERL), Universitas Arizona, Tucson, USA dengan pengembangan prototipe Raceway, Raft atau Floating System untuk produksi selada antara tahun 1981-1982. Dalam percobaan ini sanggup dihasilkan 4.5 juta head selada per hektar per tahun (Jensen dan Collins, 1985). Sistem kultur air ini terdiri dari kolam tanam yang relatif lebih dalam 15-20 cm, dengan lebar 60 cm dan panjang 30 m. Volume larutan hara kurang lebih 3.5 m kubik atau setara dengan 3 600 liter. Hara didalam kolam relatif statik dengan pergerakan hanya 2-3 liter per menit. Dalam penelitian ini juga telah diuji efektivitas penggunaan alat sterilisasi larutan hara dengan UV-sterilizer terhadap fungi patogenik maupun non patogenik yang berasosiasi dengan tumbuhan di dalam greenhouse.

Produksi komersial sayuran daun untuk salad dalam sistem terapung (floating raft system) telah digunakan di Florida semenjak awal tahun 1980-an (Resh, 1998). Sepuluh hingga 12 kali panen tumbuhan selada terutama bibb lettuce dihasilkan dalam greenhouse yang berpendingin. Dengan jarak tumbuhan yang rapat sistem ini sanggup menghasilkan 1 juta per acre per tahun tumbuhan selada yang sanggup dipasarkan. Masalah utama dari sistem komersial ini ialah tingginya modal awal untuk membangun sistem ini, dan biaya teknisi yang dibutuhkan untuk mengoperasikan sistem ini. Hal ini menjadikan sistem terapung ini sulit diaplikasikan di tingkat petani. Teknologi hidroponik pasif, low-tech, dan non recirculating system telah dipelajari di Asian Vegetabel Research Center (AVRDC) di Taiwan dan di Universitas Hawaii (Kratky et al., 1988; Kratky, 1993, 1996). Penelitian hidroponik terapung untuk produksi tumbuhan sayuran didalam greenhouse di Florida memperlihatkan hasil yang positif (Fedunak dan Tyson, 1997; Tyson et.al, 1998). Lima dari tujuh varietas komersial selada berhasil dibudidayakan memakai passive floating hydroponics di luar greenhouse, serta memenuhi persyaratan kualitas untuk dipasarkan (Tyson et al., 1999).

Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST) merupakan sistem hidroponik tanpa substrat yang dikembangkan dari sistem kultur air. Teknologi ini sanggup dioperasikan tanpa tergantung adanya energi listrik lantaran tidak memerlukan pompa untuk re-sirkulasi larutan hara. Hal ini menjadikan THST menjadi lebih sederhana, gampang dioperasikan, dan murah, sehingga berpotensi untuk dikembangkan pada tingkat petani kecil. Studi pengembangan THST dilakukan untuk mengetahui jenis tanaman, disain panel, jenis dan volume media, umur bibit, sumber dan konsentrasi larutan hara, pupuk daun dan naungan, serta pemanfaatan kembali larutan hara yang optimal. Hasil studi memperlihatkan bahwa jenis tumbuhan yang sanggup dibudidayakan dengan THST ialah caisim (Tosakan), pakchoy (White tropical type), kailan (BBT 35), kangkung (Bangkok LP1), selada (Panorama,Grand Rapids, Red Lettuce, Minetto), dan seledri (Amigo).

Program Pemupukan Hidroponik
Larutan hara untuk pemupukan tumbuhan hidroponik di formulasikan sesuai dengan kebutuhan tumbuhan memakai kombinasi garam-garam pupuk. Jumlah yang diberikan diadaptasi dengan kebutuhan optimal tanaman. Program pemupukan tumbuhan melaui hidroponik walaupun kelihatannya sama untuk aneka macam jenis tumbuhan sayuran, akan tetapi terdapat perbedaan kebutuhan setiap tumbuhan terhadap hara. Pupuk yang sanggup digunakan dalam sistem hidroponik harus mempunyai tingkat kelarutan yang tinggi.

Larutan Hara
Dua ringkasan goresan pena terbaik wacana perkembangan budidaya tumbuhan secara hidroponik telah ditulis oleh Cooper (1979) untuk sistem komersial dan ditulis oleh Jones (1982) untuk tujuan akademik. Dalam goresan pena ini dikemukakan bahwa telah banyak diformulasikan aneka macam macam hara untuk hidroponik, akan tetapi intinya penggunaan hara standar untuk tujuan komersial ketika ini tidak berubah banyak dari komposisi hara tumbuhan yang didiskripsikan para jago pada tahun 1800-an.

Sebagian besar tumbuhan hijau memerlukan total 16 elemen kimia untuk mempertahankan hidupnya. Dari total elemen ini hanya 13 yang sanggup diberikan sebagai pupuk lewat perakaran tanaman, sedangkan 3 yang lain (Okisgen, Karbon dan Hidrogen) sanggup diambil dari udara dan air (Mengel dan Kirkby, 1987). Dalam budidaya tumbuhan terkendali yang memakai tanah sebagai media, hanya sebagian kecil dari 13 unsur hara yang perlu menjadi perhatian. Sebab unsur yang dibutuhkan dalam jumlah kecil (hara mikro) sanggup disuplai oleh tanah. Sehingga sebagian besar budidaya tumbuhan dalam greenhouse yang secara tradisional memakai tanah sebagai media hanya diberikan unsur makro N,P,K saja untuk pemupukannya.

Budidaya tumbuhan secara hidroponik memungkinkan petani mengontrol pertumbuhan tanaman, akan tetapi juga memerlukan kemampuan administrasi yang sempurna untuk mencapai keberhasilan. Petani hidroponik tidak hanya harus memperlihatkan 6 hara makro ( N, P, K, Ca, Mg, S) saja, akan tetapi harus juga memperlihatkan 7 hara mikro (Fe, Mn, Cu, Zn, Mo, B) untuk mendukung pertumbuhan tumbuhan (Gerber, 1985).

Konsentrasi Hara
Menurut Hewitt (1966) terdapat kurang lebigh160 hara berdasar bentuk garam dan kandungan individual elemennya. Sedangkan berdasarkan Resh (1998) terdapat hanya sekitar 30 komposisi hara tanaman. Namun demikian masih saja hal ini membingung bagi calon pengguna untuk menentukan hara tumbuhan yang cocok untuk budidaya tumbuhan tertentu.

Menyediakan Tanaman
Memperoleh tumbuhan dengan cara persemaian (pembibitan)

  1. Sterilkan pasir yang telah disaring (ayak) dengan cara mecuci dengan air higienis secara berulang-ulang dan rendamlah dalam air mendidih selama lebih kurang satu jam. 
  2. Cucilah baki persemaian dan isislah dengan pasir yang telah disterilkan tadi kira-kira setinggi 3-4 cm. (Baki persemaian terlebih dahulu diberi lubang pada alasnya).
  3. Siram baki persemaian dengan air higienis dan biarkan beberpa menit hingga kelebihan airnya terbuang.
  4. Taburkan biji tumbuhan yang akan ditanam di atas pasir pada baki persemaian. Usahakan letak biji satu dengan lainnya tidak terlalu rapat.
  5. Jagalah jangan hingga pasir kawasan persemaian kekeringan. Gunakan hand sprayer yang diisi air biasa untuk menjaga kelembaban pasir atau bila perlu tutuplah baki persemaian dengan kaca.
  6. Pindahkan bibit tumbuhan yang diperoleh ke dalam kawasan permanen atau persemaian kedua, sehabis bibit tumbuhan mempunyai 2-4 buah daun. Jika akan pribadi ke kawasan penenaman hidroponik, bersihkan pasir-pasir yang masih menempel pada akar tanaman.

Memperoleh tumbuhan dari bibit yang telah tersedia

  1. Pasanglah lembaran surat kabar bekas di atas meja atau kawasan bekerja yang anda gunakan.
  2. Ambillah pot yang telah berisi tumbuhan dan tempatkan sebelah tanag anda di atas permukaan tanah dalam pot. Letakan tumbuhan dengan kukuh di antara jari-jari (diantara telunjuk dan jari tengah).
  3. Peganglah dasar pot dengan tangan yang masih bebas kemudian balikkan pot tersebut dan dengan hati-hati tarik keluar tumbuhan beserta akar-akarnya.
  4. Bila tumbuhan tidak mau lepas, benturkan pot tersebut dengan hati-hati secara berulang-ulang pada suatu permukaan yang keras, bila tetap tidak mau terlepas gunakan pisau tumpul untuk mengorek permukaan dalam potongan atas dari pot tersebut.
  5. Apabila telah berhasil peganglah batang tumbuhan (masih dalam posisi dijepit dua jari yang tidak terlalu kuat) dengan sebelah tangan dan gunakan tangan anda yang masih bebas untuk menghilangkan semua gumpalan tanah yang masih menempel pada akar tanaman. Lakukanlah langkah ini dengan hati-hati.

Menanam Tanaman

  1. Sediakan wadah atau pot yang akan dipakai. Usahakan jangan ada lubang bocor pada alasnya.
  2. Berilah lubang-lubang pada setiap sisi dari wadah, kira-kira 4-5 cm dari alasnya dan cucilah wadah tadi hingga bersih.
  3. Sediakan media yang akan digunakan (pasir, kerikil, atau pecahan bata). Cucilah dengan higienis media tersebut dan rendamlah dalam air mendidih selama kurang lebih satu jam.
  4. Masukkan media yang telah higienis pada wadah yang tersedia hingga volumenya mencapai 3-4 cm di atas lubang pada sisi wadah atau lebih tinggi tergantung wadah yang digunakan. Sisipkanlah pipa paralon pada tepi wadah.
  5. Tanamkan tumbuhan yang telah tersedia pada wadah yang telah berisi media tadi. Lakukan penanaman dengan hati-hati, usahakan tidak merusak akarnya. Sesuaikan jumlah tumbuhan dengan luas wadah.
  6. Tuangkanlah air higienis tanapa pupuk ke dalam wadah yang telah berisi tanaman. Tuangkan hingga mencapai permukaan media dan biarkan beberapa menit hingga kelebihan air terbuang melalui lubang-lubang di tepi wadah.
  7. Simpanlah wadah pada kawasan yang aman. Usahakan untuk sementara tidak terkena cahaya matahari langsung. Bila dirasa perlu tutuplah wadah dengan plastik transparan.
  8. Biarkanlah tumbuhan hingga satu hingga dua minggu. Jangan sekali-kali memberi larutan pupuk pada wadah dengan tumbuhan yang gres ditanam. Periksalah air pada wadah melalui paralon, bila telah habis isi kembali dengan air bersih.
  9. Setelah satu atau dua minggu, atau telah tampak adanya akar atau daun baru, tuangkanlah larutan adonan pupuk. Pada ketika ini tumbuhan sudah bisa mendapatkan cahaya matahari penuh.
  10. Lakukanlah investigasi terhadap tumbuhan secara kontinu. Tambahkanlah larutan pupuk yang gres apabila larutan pupuk dalam wadah hampir habis. Jangan terlalu sering memberi larutan pupuk hingga banyak yang terbuang.
  11. Buatlah catatan terhadap perubahan tumbuhan yang terjadi, menyerupai kecepatan tumbuh, warna daun, banyaknya buah yang dihasilkan dan lain sebagainya.

    Download Buku Hidroponik PDF Gratis

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas-berkas mengenai Hidroponik ini silahkan atau unduh filenya pada link di bawah ini:

    Download File:

    Bertaman Sayuran Hidroponik.pdf

    Hidroponik Sederhana.pdf

    Macam-Macam Media Tanam Hidroponik.pdf

    Panduan Teknis Budidaya Tanaman Cabai Merah.pdf

    Pupuk Cabai Metode Hidroponik.pdf

    Sistem Hidroponik.pdf

    Tanaman Mentimun dalam Metode Hidroponik.pdf

    Teknologi Media Tanam dan Sistem Hidroponik.pdf


    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Buku Hidroponik PDF Gratis. Semoga bisa bermanfaat.